Skip to content

Yuk, Kenali Manfaat Mendongeng bagi Perkembangan Anak!

Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak orang tua yang lebih memilih memberikan gawai untuk anak-anaknya pun anak-anak lebih senang menonton youtube dan bermain video game di dalam ponsel. Kegiatan-kegiatan tradisional, seperti bermain congklak (atau permainan tradisional lainnya),  secara perlahan mulai tergeser, begitu pun dengan dongeng.

Kegiatan mendongeng sudah menjadi sebuah tradisi dalam menyampaikan moral value yang ada di dalam kehidupan manusia. Mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, terdapat aplikasi di dalam ponsel yang secara otomatis dapat membacakan dongeng untuk anak-anak. Walaupun begitu, rasanya tidak sama seperti ketika dongeng dibacakan oleh orang tua. Menurut studi yang dilakukan oleh YouGov (Scholastic), 83% anak-anak merasa senang jika dibacakan dongeng dengan suara lantang, 68%-nya mendeskripsikan hal tersebut sebagai waktu spesial bersama orang tua, salah satu responden bahkan mengungkapkan jika ia merasakan kehangatan ketika orang tuanya membacakannya dongeng (The Guardian, 2015).

Dalam perkembangan manusia, terdapat fase yang disebut dengan golden age atau masa keemasan saat manusia berumur 0–6 tahun. Pada usia tersebut, anak berkembang dengan sangat pesat, baik fisik, mental, karakter maupun kecerdasan otak (Fitroh, 2015). Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memaksimalkan perkembangan anak pada usia ini, salah satunya melalui kegiatan mendongeng. 

Selain sebagai hiburan, mendongeng juga dianggap sebagai media yang tepat untuk  metode belajar bagi anak-anak karena sifatnya yang menyenangkan, tidak menggurui, dan dapat mengembangangkan imajinasi anak (Majid, 2008; Yudha, 2007 dalam Ayuni, dkk, 2013). Adapun manfaat mendongeng bagi perkembangan anak usia dini, antara lain:

1. Perkembangan Karakter Anak

Biasanya cerita dongeng menggunakan tokoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, selain manusia, seperti binatang, tumbuhan, robot, atau mobil (Hidayati, 2019). Hal ini dapat membuat anak merasa tertarik untuk mendengarkan cerita yang akan dibawakan. Selain itu, karakter yang ditunjukan di dalam cerita dongeng, biasanya tidak mutlak hitam-putih, tetapi terdapat area abu-abu, seperti tokoh yang jahat dapat berubah menjadi baik setelah mengalami peristiwa tertentu. Terdapat beberapa karakter yang biasanya dimunculkan di dalam cerita dongeng, seperti karakter sombong dan rendah hati dalam cerita “Kelinci dan Kura-Kura”, kancil nakal yang suka mencuri dalam cerita “Si Kancil Mencuri Ketimun”, dan lain-lain.

Di dalam kehidupan, terdapat hubungan sebab-akibat. Pada tokoh di dalam cerita dongeng misalnya, Kelinci mempunyai sifat sombong, sehingga ia dijauhi oleh temannya, sedangkan Kura-kura memiliki sifat baik hati, sehingga ia disayang oleh temannya. Berdasarkan contoh penokohan tersebut, anak dapat mengambil kesimpulan “Oh, kalau aku sombong nanti aku dijauhi teman, tapi kalau aku baik hati aku akan punya banyak teman”, sehingga tertanam di dalam pikirannya bahwa ia tidak boleh sombong dan harus baik hati. Pada saat mendengar orang dewasa mendongeng, anak-anak dapat menangkap pesan yang coba disampaikan oleh cerita dongeng tersebut, sehingga dapat tertanam di dalam pikirannya tentang hal baik dan hal buruk. Karakter yang anak tangkap melalui tokoh dongeng dapat diimplementasikan ketika anak bersosialisasi dengan teman, orang tua, atau orang lain. 

2. Pengenalan Emosi

Selain pesan moral, dengan mendongeng, anak-anak dapat belajar mengenai emosi atau perasaan melalui intonasi suara dan reaksi si pendongeng (dalam konteks ini adalah orang tua). Saat membacakan dongeng, orang tua dapat  memainkan intonasi suara sesuai dengan dialog yang terdapat di dalam cerita yang mewakili emosi dan perasaan si tokoh seperti emosi  seperti sedih, senang, marah, kecewa, dan lain-lain. Sehingga anak dapat mencatat hubungan antara peristiwa dalam cerita dan mengerti  emosi yang dialami para tokoh (Frude dan Killick, 2011). Ekspresi yang ditampilkan oleh orang tua juga dapat membantu anak dalam mempelajari emosi, seperti tertawa menunjukkan rasa senang/gembira, menangis/cemberut menunjukkan rasa sedih, merengut menunjukkan rasa marah/kesal, dan lain-lain. Orang tua pun dapat merangsang reaksi anak dengan memancing mereka melalui pertanyaan, seperti “dia menginginkan bola itu, tapi orang tuanya tidak memberikannya. Kira-kira apa, ya, yang dia rasakan?”

3. Menumbuhkan Rasa Empati

Cerita dongeng juga dapat menumbuhkan rasa empati pada anak-anak. Rasa empati merupakan hal yang penting dalam menjalin hubungan sosial. Melalui dongeng, anak-anak  dapat melihat suatu hal melalui berbagai perspektif. Di dalam sebuah cerita, biasanya terdapat beberapa tokoh dengan latar dan sifat yang berbeda,  misalnya Andi berasal dari keluarga yang berkecukupan, sehingga semua keinginannya dapat diberikan oleh orang tuanya, sedangkan Budi berasal dari keluarga yang biasa aja, sehingga untuk mendapatkan keinginannya, Budi harus berjualan makanan di sekolah. Melalui contoh tersebut, anak dapat memiliki pemahaman seperti, “oh, ternyata engga semua orang seperti aku, ya”, sehingga anak dapat belajar jika pemikiran, perasaan, keadaan serta keinginannya bisa jadi berbeda dengan orang lain dan dapat menumbuhkan rasa empati terhadap sesama (Ayuni, 2013).

Story telling
image source: www.freepik.com

Untuk itu terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan bagi orang tua yang ingin mendongeng untuk anaknya, antara lain:

Memilih Cerita yang Sesuai

Buku anak-anak memiliki berbagai macam bentuk pun isinya. Dalam mendongeng, isi buku berperan penting karena secara tidak langsung orang tua akan menanamkan hal yang terdapat di dalam buku tersebut. Oleh karena itu, bacaan/cerita yang sesuai sangat diperlukan. Orang tua dapat memilih tema-tema tertentu yang ingin disampaikan melalui dongeng, seperti agama, kegiatan sehari-hari, dan lain-lain, yang rasanya dibutuhkan oleh anak di kehidupan mereka. Selain membaca dari cerita yang sudah ada, orang tua juga dapat menyiapkan picture book kemudian mengarang ceritanya sendiri sesuai dengan gambar yang ada atau bisa juga mengajak anak untuk berimajinasi bersama.

Membuat Properti Mendongeng

Dalam mendongeng, terkadang dibutuhkan properti-properti pendukung cerita, seperti realisasi tokoh. Orang tua dapat memilih tokoh berdasarkan hal yang disukai anak, sehingga anak merasa lebih tertarik atau orang tua dan anak dapat membuat properti secara bersamaan dengan menggunakan kardus, kertas origami, kertas koran, karton, dan lain-lain. Selain menyenangkan untuk anak, membuat properti bersama dapat menambah kedekatan antara orang tua dan anak.

Memainkan Intonasi dan Ekspresi

Dalam mendongeng, intonasi dan ekspresi menjadi hal yang penting. Orang tua tidak perlu takut untuk memainkan intonasi dan ekspresinya. Anda dapat membuat nyaring suara ketika ada dialog yang menyenangkan, membuat suara terdengar sedih, marah, dan lainnya. Intonasi yang dimainkan tentu harus sejalan dengan ekspresi yang anda keluarkan. Jika terdapat dialog yang menunjukkan rasa senang, anda dapat tersenyum, nyengir, atau tertawa, sebaliknya jika dialog menunjukkan rasa sedih, anda dapat memasang wajah murung atau sedih. Dengan ini anda dapat menarik perhatian anak karena cerita dibawakan dengan tidak monoton (Kidmunication, 2012).

Mendongeng Secara Bergantian

Menurut situs Dayton Children’s peran ibu dalam mengasuh anak mencapai 47% sedangkan peran ayah hanya mencapai 20% (Merdeka, 2019). Hal ini terjadi karena kebanyakan ibu yang selalu ada di rumah (Ibu rumah tangga), sehingga ibu mempunyai waktu lebih banyak dengan anak, pun lumrah ditemukan anak yang cenderung lebih dekat dengan sang ibu. Untuk mengantisipasi hal ini, orang tua dapat secara bergantian mendongeng untuk anaknya. Jika ibu sudah mendongeng di siang hari saat bermain atau menjelang anak tidur siang, maka sebaiknya ayah yang mendongeng untuk anak saat mereka ingin tidur di malam hari. Hal ini dilakukan agar hubungan ayah-anak tetap terjaga dan anak dapat merasakan kasih sayang serta kehangatan dari ayahnya saat mereka akan tidur, sehingga tidak ada “celah” di antara ayah-anak.

 

Selain sebagai media belajar, mendongeng juga dapat mengeratkan hubungan orang tua-anak. Jadi, ayo sama-sama kita lestarikan tradisi mendongeng!

References

Ayuni, Rita Diah, dkk. (2013). “Pengaruh Storytelling terhadap Perilaku Empati Anak”. Jurnal Psikologi Undip, 12(2), 121–130.

Erickson, Elizabeth. (2018). “Effects of Storytelling on Emotional Development”. Retrieved from Sophia, the St. Catherine University repository website (https://sophia.stkate.edu/maed/256

Fitroh, Siti Fadjryana, dkk. (2015). “Dongeng sebagai Media Penanaman Karakter pada Anak Usia Dini”. Jurnal PG-PAUD Trunojoyo, 2(2), 76–149.

Frude, Neil, Steve Killick. (2011). “Family Storytelling and The Attachment Relationship”. Psychodynamic Practice, 17(4), 441–455 (http://dx.doi.org/10.1080/14753634.2011.609025

Hidayati, Niswatin Nurul. (2019). “Storytelling: One Package Learning in Improving Language Skill and Implanting Character Education on Children”. Edukasi, 7(2), 53–72.

Kidmunication. (2012). “Storytelling Techniques – Using Tone and Emphasis”. (http://kidmunication.com/telling-stories/story_telling_training/storytelling-techniques-using-tone-and-emphasis/)

Weale, Sally. (2015). “Bedtime Story Is Key to Literacy, Says Children’s Writer Cottrell Boyce”. (https://www.theguardian.com/education/2015/sep/26/bedtime-story-is-key-to-literacy-says-childrens-writer-cottrell-boyce?)

Wuri. (2019). “Kedekatan Ibu-Anak Bukan Sekadar Mitos, Ini Alasan Logisnya”. (https://m.merdeka.com/gaya/kedekatan-ibu-anak-bukan-sekadar-mitos-ini-alasan-logisnya.html)

Like This

Share This

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp