Skip to content

Quarter Life Crisis: Bagaimana Cara Menghadapinya?

Apakah kalian pernah merasa bingung dan “tersesat” setelah lulus kuliah? Merasa stres dan gelisah ketika memikirkan tentang masa depan yang tidak pasti? Mungkin kalian sedang berada di suatu fase yang disebut quarter life crisis.

Mengenal quarter life crisis

Quarter Life Crisis adalah sebuah fase saat seseorang merasa tidak memiliki arah, khawatir, dan bingung tentang ketidakpastian hidupnya di masa yang akan datang. Konsep tentang quarter life crisis dikenalkan kepada budaya populer melalui buku Quarter Life Crisis: The Unique Challenge of Life in Your Twenties (Rossi, 2011). Pada umumnya, fase ini dialami oleh individu berusia 18–30 tahun (Thorspecken, 2005). Rasa khawatir dan bingung biasanya mulai dirasakan sejak seseorang lulus kuliah. Hal ini terjadi karena transisi antara kehidupan akademis dan kehidupan yang “sebenarnya” mulai dirasakan oleh individu yang menginjak usia 20-an. Dalam fase ini, mulai muncul pertanyaan terkait masa depan, seperti “apakah saya akan sukses?”, “apakah saya akan bahagia dengan hal yang saya jalani?”.

Kekhawatiran yang dirasakan oleh individu pada periode ini meliputi karier, keuangan, hubungan romansa dan sosial (Rossi, 2011). Rasa khawatir dapat muncul karena pengaruh lingkungan sekitar, seperti teman sebaya yang sudah memiliki pekerjaan stabil dan hidup yang tertata, serta ketakutan akan jenjang karier yang belum pasti. Individu yang sedang berada dalam fase ini dapat mempunyai berbagai perasaan di dalam dirinya, seperti rasa takut, insecure, cemas, tidak dapat fokus, hingga depresi (Robbins and Wilner dalam Atwood, 2008).

Stressed Man Sitting
image source: www.freepik.com

Menghadapi quarter life crisis

Sebenarnya, quarter life crisis merupakan hal wajar yang dapat dirasakan karena ini adalah sebuah proses transisi menuju fase hidup selanjutnya. Namun, kita tetap harus mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Untuk menghadapi quarter life crisis terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan (Poswolsky, 2016), antara lain:

1. Menulis Jurnal

Banyak di antara kita yang kesulitan untuk menentukan sesuatu yang harus dilakukan karena kita tidak mengenal diri kita sendiri. Hal tersebut dapat terjadi karena mungkin kita belum berusaha untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan, sehingga hal-hal yang bersifat abstrak tersebut hanya ada di dalam angan dan pikiran. Menulis jurnal dapat membantu kita untuk mengetahui tentang diri kita dan hal-hal yang kita inginkan. Kita dapat menuliskan segala hal di dalam jurnal tersebut, seperti kegiatan sehari-hari, emosi atau perasaan yang dirasakan pada hari itu, atau tujuan dan mimpi yang ingin kita capai dalam waktu dekat atau jangka panjang (menyusun skala prioritas). Dengan rutin menulis jurnal, kita dapat mengenali diri kita dengan lebih baik lagi (Porter, 2007).

 

2. Belajar Mencintai Diri Sendiri

Terkadang, ketika sedang terjebak di dalam periode quarter life crisis seseorang cenderung lupa untuk mencintai diri sendiri karena terlalu sibuk melihat pencapaian orang lain. Peribahasa bahasa Indonesia mengatakan “rumput tetangga lebih hijau dibandingkan rumput sendiri” yang artinya manusia cenderung merasa jika hal yang dimiliki orang lain lebih baik dibanding apa yang dimilikinya. Kadang, kita tidak sadar jika rumput kita sama hijaunya dengan rumput tetangga.

 

Dalam upaya belajar untuk mencintai diri sendiri, kita dapat memulai dengan hal yang cukup sederhana, yakni mengapresiasi setiap hal positif yang telah kita lakukan. Mungkin terdengar sepele, tetapi, memberi apresiasi kepada diri sendiri dapat membuat kita menjadi lebih menghargai diri kita. Kita dapat melakukannya sambil menatap pantulan wajah kita di cermin, lalu berkata, “you did well today”, “terima kasih untuk hari ini”, “kerja bagus”, dan lainnya. Selain mengapresiasi diri melalui perkataan, kita juga dapat memberikan “hadiah” kepada diri kita sendiri, seperti menggunakan hari libur untuk menonton film, bersepeda, tidur sepuasnya, atau menghabiskan waktu dengan kumpul bersama orang-orang tersayang atau terdekat.

 

Oleh karena itu, belajar mencintai diri sendiri menjadi hal penting yang dapat dilakukan dalam menghadapi quarter life crisis, dengan begitu kita dapat melihat value yang ada di dalam diri kita dan dapat mengembangkannya dengan lebih baik lagi.

 

3. Keluar dari Zona Nyaman

Berada di dalam zona nyaman memang terasa menenangkan, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan. Jika kita merasa nyaman berada di dalam rumah dan tidak bersosialisasi, maka kita harus mencoba untuk keluar rumah dan mulai bersosialisasi dengan orang lain. Dengan melakukan hal ini, kita dapat mempunyai pandangan terhadap hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita miliki.

 

Dalam proses pendewasaan, kita harus sering mengeksplorasi dunia luar, mencoba hal-hal baru sebelum akhirnya dapat memutuskan arah kehidupan kita selanjutnya. Selama prosesnya, kita akan sering mengalami trial-error. Hal ini wajar terjadi karena kita masih dalam proses pencarian tentang diri kita yang sebenarnya dan hal-hal yang kita inginkan. Jika kita terus-menerus berada di zona nyaman, maka kita tidak akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal baru yang berada di luar zona kita.

 

4. Mempunyai Support System

Dalam menghadapi quarter life crisis, keberadaan support system menjadi salah satu hal yang cukup penting. Biasanya, individu yang menjadi support system merupakan orang-orang terdekat, seperti teman atau keluarga. Hal ini merupakan hal yang baik, akan tetapi jangan sampai support system tersebut memaklumi hal negatif (seperti rasa malas) yang ada di diri kita. Seorang support system dibutuhkan untuk teman bercerita, sebagai penyemangat agar kita tidak mudah menyerah dan tetap konsisten dengan hal yang telah/akan kita tentukan atau pilih.

 

Quarter life crisis memang dapat terdengar menakutkan karena dipenuhi dengan rasa bingung, khawatir, dan stres. Mungkin tidak mudah dalam menghadapinya. Namun, apabila kita mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya, maka quarter life crisis dapat menjadi fase untuk kita menemukan jati diri yang sesungguhnya.

References

Atwood, Joan D. (2008). “The Quarter-life Time Period: An Age of Indulgence, Crisis or Both?”. Contemp Fam Ther, 30(4), 233–250 (https://doi.org/10.1007/s10591-008-9066-2)

Porter, J. Y. (2007). “Helping College Students Develop Mental Wellness Skills Through Journaling Techniques”. (http://counselingoutfitters.com/vistas/vistas07/Porter.htm)

Poswolsky, Adam S. (2016). The Quarter-Life Breakthrough. New York: TarcherPerigee.

Rossi, Nicole E. (2011). “Does a Quarterlife Crisis Exist?”. The Journal of Genetic Psychology, 172(2), 141–161.

Thorspecken, Jennifer T. (2005). “Quarterlife Crisis: The Unaddressed Phenomenon” dalam “Proceedings of the Annual Conference of the New Jersey Counseling Association”. Eatontown, New Jersey.

Like This

Share This

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp