Skip to content

Gangguan Disforik Pramenstruasi pada Wanita: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya!

Menstruasi merupakan siklus pendarahan yang tiap bulan dialami oleh para wanita. Menstruasi normalnya terjadi selama 3 hingga 7 hari dengan siklus yang umumnya terjadi dalam 28 hari.

Wanita bisa jadi sangat sensitif sebelum menstruasi bahkan selama masa menstruasi. Mood wanita bisa tiba-tiba berubah, kadang merasa sedih, senang, bahkan menangis. Biasanya wanita menyebutnya dengan PMS (Pramenstruasi). Dikutip dari MedicalNewsToday, 20% – 40% wanita mengalami gejala pramenstruasi sedang hingga berat (PMS) dan 3% – 8% lainnya mengalami gejala yang lebih parah dari PMS, yaitu premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Dikutip dari WomensHealth.gov, PMDD mempengaruhi hingga 5% wanita di usia subur.

Lalu, apa sih PMDD itu? PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder) adalah gangguan mood pramenstruasi yang ditandai oleh gejala-gejala depresi yang berat, mudah tersinggung, ketegangan yang sangat berat dan cenderung lebih mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan PMS biasa. Biasanya gejala-gejala tersebut muncul seminggu sebelum menstruasi dan akan hilang saat menstruasi itu mulai terjadi.  PMDD akan sangat mengganggu seluruh aspek kehidupan sehari-hari seorang wanita termasuk di dalamnya hubungan dengan keluarga, teman, bahkan hingga kemampuannya dalam bekerja dan belajar (Rangkuti, 2012).

PMDD
Foto oleh www.freepik.com

Lalu, apa saja gejala PMDD? Berikut gejala-gejala dari Gangguan Disforik Pramenstruasi (Womenshealth.gov, 2018):

  1. Suasana hati yang putus asa dan depresi
  2. Mencela diri sendiri dengan ditandai kecemasan, dan ketegangan
  3. Gelisah dan suasana hati mudah berubah.
  4. Meningkatnya konflik antarpribadi
  5. Penurunan minat pada aktivitas biasa
  6. Sulit berkonsentrasi
  7. Kurangnya energi (mudah lelah dan lesu)
  8. Panick attack
  9. Perubahan selera makan (makan berlebihan atau bahkan mengidam makanan tertentu)
  10. Hipersomnia atau insomnia
  11. Di luar kendali.
  12. Gejala fisik seperti pembengkakan atau nyeri payudara.


Rangkuti (2012), mengatakan bahwa seorang wanita dapat dikatakan mengalami GDPM apabila 5 dari 11 gejala di atas harus terjadi pada fase pramenstruasi atau sebelum menstruasi dan gejala-gejala tersebut harus hilang saat awal menstruasi. Salah satu gejala setidaknya harus berupa depresi mood, kecemasan, labilitas atau iritabilitas. Gejala-gejala tersebut juga haruslah mengganggu kegiatan sehari-sehari.

Penyebab PMDD sendiri belum jelas. Tetapi karena hal yang mendasari PMS dan PMDD adalah depresi dan kecemasan, jadi ada kemungkinan bahwa perubahan hormon yang memicu periode menstruasi memperburuk gejala gangguan mood (Mayoclinic.ord, 2018).

Tapi jangan khawatir girls! PMDD ini bisa ditangani agar tidak semakin parah. Perawatan untuk PMDD diantaranya (Medicalnewstoday.com., 2018):

  1. Konsumsi obat anti-depresan dan pil KB
  2. Terapi kognitif
  3. Perawatan alternative lain yang lebih alami yaitu yoga, akupuntur, dan terapi saffron.


PMDD ini juga dapat dicegah agar tidak terjadi saat menjelang menstruasi. Hal yang dapat dilakukan adalah (MedicalNewsToday, 2018):

  1. Rileks dan santai pada hari-hari menjelang menstruasi
  2. Melakukan kegiatan untuk menghilangkan stres dan tegang seperti membaca, menonton film, berjalan-jalan
  3. Berbincang dengan teman yang dipercaya
  4. Gaya hidup sehat seperti makan makanan sehat dengan kombinasi makanan sehat di seluruh kelompok makanan (4 sehat 5 sempurna) dan juga mengurangi makanan yang asin dan manis, serta perbanyak aktivitas fisik juga dapat membantu meringankan beberapa gejala PMDD.


Menurut Womenshealth.gov. (2018), jika mulai merasakan gejala dari PMDD yang sebelumnya telah disebutkan, silahkan hubungi penyedia layanan kesehatan Anda agar segera mendapat penanganan yang tepat. Hal ini karena gejala PMDD dapat berlangsung lama dan juga bisa menjadi cukup serius sehingga penderita disarankan untuk mencari pengobatan sesegera mungkin.

Banyak yang tidak memahami gangguan ini dan justru jadi meremehkan penderitanya. Padahal jika tidak ditindaklanjuti, gangguan bisa semakin parah. Wanita dengan PMDD sebenarnya merasa frustasi karena tidak jarang dari mereka tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan ketika dirujuk ke pskiater, dokter seringkali salah diagnosis dengan gangguan bipolar. Mereka hanya ingin mendapat dukungan dari orang sekitarnya, bukanlah cibiran. Paling penting dari semuanya adalah ‘dengarkan’ mereka yang menderita PMDD agar mereka tidak semakin merasa menderita.

Sumber

Rangkuti, A., A. (2012). “Gambaran Gangguan Disforik Pra-Menstruasi Pada Perawat Wanita RSUP H. Adam Malik Medan”. Tesis. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan


Medicalnewstoday.com. (2018, 10 July). Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Diakses pada 3 Agustus 2020 dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/308332

Womenshealth.gov. (2018, 16 March). Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Diakses pada 3 Agustus 2020 dari https://www.womenshealth.gov/menstrual-cycle/premenstrual-syndrome/premenstrual-dysphoric-disorder-pmdd

Mayoclinic.ord. (2018, 29 November). Premenstrual Dysphoric Disorder: Different from PMS?. Diakses pada 4 Agustus 2020 dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/premenstrual-syndrome/expert-answers/pmdd/faq-20058315

Like This

Share This

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp